Tag

, ,

Agaknya angka perceraian terus saja meningkat di mana pun. Setiap pasangan memiliki alasannya tersendiri untuk membela diri dan kemudian memutuskan untuk berpisah karena tak lagi ditemukannya kecocokan.

Padahal di awal-awal hubungan tampak harmonis dan akan berlanjut lama. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ada banyak faktor, namun ada beberapa yang sering menjadi pemicu utama retaknya sebuah mahligai pernikahan.

Egois dan merasa benar sendiri

Egosi adalah sebuah sifat yang menjengkelkan, di mana seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa melihat apa yang dibutuhkan pasangan, atau keadaan keluarga. Sikap egois akan mengintimidasi pasangan sampai kemudian merasa tak tahan lagi.

Oleh karena itu berhati-hatilah. Selain itu merasa benar sendiri pun tidak diperbolehkan, sebaiknya untuk berbicara dan bertindak tidak hanya melihat dari sudut pandang sendiri. Lebih terbukalah dan akui bahwa setiap orang bisa salah.

Tidak mau meminta maaf

Orang yang tidak pernah merasa salah cenderung tidak mau meminta maaf. Sebuah persoalan di dalam keluarga dipercayai bukan karenanya. Atau jika pun sadar, gengsi lebih menguasai sehingga tetap tidak mau meminta maaf dan malah menyalahkan pasangan. Padahal permintaan maaf dapat melunakkan kembali hubungan yang kaku.

Gemar protes

Kesalahan orang lain sering kali lebih terlihat daripada kesalahan diri sendiri, itulah salah satu penyebab mengapa orang gemar protes serta mengkritik tanpa pernah bercermin. Orang yang gemar protes terhadap pasangan biasanya sellau menginginkan pasangan yang sempurna. Mencari-cari kesalahan pasangan adalah hal yang sangat buruk dan bisa jadi batu sandungan yang cukup besar.

Suka membandingkan

Membandingkan pasangan dengan orang lain yang menunjukkan orang lain lebih baik berarti meremehkan pasangan Anda, dan merasa pasangan Anda lebih rendah dari orang lain. Biasa dibilang Anda mendambakan kelebihan orang lain berada pada pasangan.

Bungkam

Jika sudah saling diam dan susah untuk berkomunikasi karena setiap berkomunikasi pasti akan menimbulkan percekcokan, maka ini sudah merupakan tahap yang sangat buruk. Sebaiknya jernihkan pikiran masing-masing, jika bisa cari penengah untuk memperbaiki hubungan jika keduanya susah untuk berkomunikasi secara baik.