Menyelami adat pertunangan dalam suku Aceh

Pertunangan dalam suku Aceh yang masih sanagat kuat menjunjung nilai Islami, masih menimbulkan perdebatan banyak pihak. Dalam Islam sendiri tidak dikenal  yang namanya pertunangan. Namun dewasa ini mulai banyak suku Aceh, terutama yang sudah tersentuh budaya modern menerapkan pertunangan sebelum pernikahan.

Terlepas dari itu semua, adat suku Aceh mulai menjelang dari lamaran hingga pernikahan itu sendiri sangatlah unik dan juga penuh filosofi. Pernikahan dimulai dengan tahapan melamar, atau yang dikenal sebagai Ba Ranup. Pada tahapan ini, pihak dari laki-laki yang diwakili oleh orang yang dituakan atau theulangke menemui pihak keluarga gadis untuk menyatakan niat melamar.

rumahnikah.com
rumahnikah.com

Setelah ditemukan kesepakatan, maka pihak laki-laki akan datang kembali untuk melamar secara resmi. Dalam tahapan ini dibawa seperangat sirih pinang, yang berfilosofi ikatan serta kesungguhan. Jika lamaran diterima, maka masuklah kini dalam prosesi tunangan atau Jakba Tanda. Pada tahapan ini, perwakilan dari pihak pria datang ke rumah si gadis untuk membicarakan hari perkawinan atau peukeong haba.

Sekain menentukan hari pernikahan, dibicarakan pula memngenai mahar atau Jeunamee. Saat pertunangan ini pulalah musyawarah mengenai pernikahan dibicarakan oleh kedua belah pihak. Pihak laki-lakipun membawa hantaran berupa buleukat kuneeng yang dilengkapi pula dengan tumphou, aneka buah, pakaian wanita dan seperangkatnya, serta perhiasaan.

Yang unik jika kedepanya pertunangan ini batal atas permintaan pihak laki-laki, maka tanda perkawinan ini dianggap hangus. Namun jika yang memutuskan adalah pihak wanita, maka dia harus mengganti seserahan sejumlah 2 kali lipat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*