Tag

, , ,

Ada banyak hal yang perlu dibahas terkait dengan nikah siri. Namun sebelumnya akan menjadi lebih baik bila sama-sama memahami apa sebenarnya nikah siri itu. Mengapa nikah siri begitu fenomenal akhir-akhir ini hingga memunculkan isu akan dibuat RUU yang membahas khusus persoalan nikah siri.

Nikah siri merupakan pernikahan yang dilandaskan pada dasar hukum agama saja tanpa ada landasan hukum negara. Sehingga dengan kata lain pernikahan yang dilangsungkan oleh laki-laki dan perempuan dengan memenuhi semua syarat dan rukun sahnya pernikahan sesuai dengan kaidah dalam ajaran agama namun tidak melakukan pelaporan ke badan pencatatan negara, inilah yang disebut dengan nikah siri. Lantas apa bedanya dengan pernikahan secara agama? Keduanya pada dasarnya tidak ada bedanya.

Namun yang membuat ada penambahan kata ‘siri’ adalah di Indonesia yang berlaku bukanlah hukum agama seperti di Mesir dan Malaysia namun hukum negara. Sehingga bila ada pasangan yang menikah sebatas sesuai dengan hukum agama dan belum resmi secara hukum negara, ini yang dinamakan nikah siri atau nikah sembunyi-sembunyi.

Dengan melihat pengertian nikah siri, maka hal-hal dan hubungan yang bisa terlahir dengan adanya pernikahan juga ditentukan sesuai dengan ketentuan ajaran agama termasuk, hak waris, hak wali, dan lain-lain. banyak orang yang khawatir bahwa anak yang terlahir dari pasangan nikah siri tidak akan memiliki hak wali yang sah. Secara hukum negara, ia memang tidak memiliki hak wali dari orang tuanya karena memang pernikahan orang tuanya tidak dicatatkan ke lembaga pencatatan negara. Bahkan anak pun akan kesulitan dalam proses mencari akte kelahiran.

Namun secara agama, tentu saja anak yang terlahir dari pasangan nikah siri memiliki hak wali sebagaimana mestinya sesuai yang diatur dalam syariat agama. Wali nikah sangat dibutuhkan oleh anak perempuan karena ini bisa menjadi syarat sahnya pernikahan secara agama. sedangkan untuk anak laki-laki, wali nikah bukan suatu keharusan karena meski tanpa ada wali nikah ia tetap boleh melaksanakan pernikahan.

Anak perempuan yang terlahir dari pasangan suami istri yang menikah siri tetap memiliki hak wali nikah dari garis ayah kandungnya. Bila ayah kandungnya masih hidup, meski telah bercerai dengan ibunya maka ayah kandungnya tetap yang menjadi wali nikah anak perempuannya. Namun, bila ada suatu sebab yang menjadikan ayah kandungnya tidak bisa menjadi wali nikah karena sakit keras atau sedang ada di tempat yang jauh dan tidak memungkinkan menjadi wali nikah anaknya, maka ia berhak memasrahkan amanah wali nikah tersebut kepada wali yang lainnya. Hal ini hendaknya juga dipahami sungguh-sungguh oleh kedua orang tua dan juga keluarga yang lainnya sehingga anak tersebut masih memiliki hak wali nikah dari ayah kandungnya.

Banyak orang yang mencemaskan bahwa anak yang terlahir dari pasangan nikah siri sering menjadi korban dan hak-haknya tidak bisa terpenuhi. Hal ini sangat wajar karena memang pernikahan tersebut tidak melalui pencatatan ke lembaga negara sehingga tidak bisa melakukan penuntutan atau apapun yang terkait hukum negara. Namun, bila pasangan suami istri dan orang-orang yang terkait dengan berlangsungnya pernikahan siri tersebut memahami kaidah ajaran agama dengan baik maka hal itu tidak perlu dikhawatirkan lagi. Anak yang terlahir dari pasangan nikah siri tetap memiliki hak wali nikah dan hak-hak lainnya, seperti hak waris, sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan dalam syariat agama.