Tag

, ,

Seiring terjadinya perdebatan mengenai RUU tentang perkawinan yang
mengatur tentang nikah siri, maka dapat ditelusuri bahwa nikah siri dapat
menjadi sesuatu yang haram atau halal hukumnya menurut agama. Karena pada
dasarnya nikah siri boleh untuk dilakukan, maka hal berikutnya yang patut
untuk dicermati adalah dipatuhinya ataukah tidak syarat sah dari
terjadinya suatu pernikahan.

Baik nikah siri ataupun apapun nama lainnya pernikahan, maka suatu
pernikahan akan dianggap sah apabila semua syarat sah pernikahan
terpenuhi. Syarat sah pernikahan adalah adanya wali dari pihak mempelai
perempuan. Ketiadaan wali biasanya terjadi di dalam suatu pernikahan siri
yang terjadi karena tidak adanya restu dari orang tua dari pihak mempelai
perempuan.

kaltim.prokal.co

kaltim.prokal.co

Ketiadaan wali dan tanpa adanya persetujuan wali, maka suatu
pernikahan dianggap tidak sah hukumnya. Apabila mempelai perempuan tidak
memiliki wali dari pihak keluarganya, maka penghulu dapat menjadi wali
hakim yang menikahkannya. Namun perlu dicatat bahwa persetujuan dari wali
yang sebenarnya tertap diperlukan di dalam pernikahan yang sah ini.

Syarat nikah siri ataupun bentuk pernikahan yang berikutnya adalah adanya
dua orang saksi yang telah dewasa. Saksi ini penting untuk membuktikan
bahwa pernikahan tersebut memang benar-benar terjadi dan dapat
dipertanggungjawabkan. Syarat sah berikutnya adalah adanya ijab jabul
atau pernyataan menikah dari mempelai laki-laki terhadap wali nikah si
mempelai perempuan. Selain itu tentu saja harus hadir kedua mempelai dan
adanya mas kawin bagi mempelai perempuan. Itulah syarat sah dari
terjadinya pernikahan baik pernikahan secara umum maupun pernikahan siri
di dalam Islam.

Diabaikannya satu atau lebih dari syarat nikah tersebut akan membuat
pernikahan menjadi tidak sah untuk dilakukan. Yang sering terjadi adalah
nikah siri terjadi dikarenakan adanya niat untuk menikah secara
sembunyi-sembunyi dikarenakan pihak mempelai perempuan tidak disetujui
untuk menikah dengan mempelai laki-laki. Dengan demikian, apabila memang
ini yang terjadi, maka pernikahan yang demikian tidak sah hukumnya, bukan
saja dari segi hukum, tapi juga dari segi agama.

Apabila nikah siri dilakukan dengan sudah memenuhi semua syarat sah nikah
tersebut, maka dari segi agama sudah tidak ada masalahh lagi. Ditilik
dari segi agama maka pernikahan yang demikian sudah dianggap sebagai
pernikahan yang sah dimata Tuhan dan agama. Namun dari segi hukum negara,
pernikahan yang demikian tidak bisa dibuktikan dikarenakan tidak adanya
surat nikah yang sah dari negara.

Oleh karena itu apabila terjadi masalah dengan pasangan dan memerlukan adanya bantuan hukum, pernikahan yang demikian sulit untuk diperjuangkan dan biasanya wanita yang menjadi korban atas tindakan suami yang tak bertanggungjawab. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik apabila pernikahan yang sudah resmi di mata Tuhan dan agama ini disahkan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di negara kita
agar di kemudian hari tidak ada masalah berarti yang terjadi.