Pandangan islam terhadap nikah siri

Fenomena nikah siri sempat begitu ramai dibicarakan dikalangan masyarakat Indonesia. Hal ini terjadi karena marak terjadinya pernikahan siri di suatu desa di Jawa Barat. Dan baru-baru ini pemerintah dalam rencana undang-undang yang mereka buat berusaha untuk membuat si pelaku nikah siri untuk membayar sejumlah denda tertentu,jika terbukti mereka benar-benar melakukan nikah siri. Bagaimana sebenarnya nikah siri jika dilihat dari sudut pandang agama? Syahkah pernikahan ini? Haruskah para pelakunya dihukum atas pernikahan tersebut?

Nikah-Siri

Masyarakat umum seringkali mengartikan pernikahan siri sebagai, pernikahan tanpa wali, pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara, dan pernikahan yang dirahasiakan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Apabila nikah siri terjadi dikarenakan pernikahan tersebut tidak memiliki wali, maka sebenarnya Islam melarang terjadinya pernikahan tanpa wali dari pihak perempuan.

Hal ini senada dengan hadits yang dituturkan oleh Abu Musa ra: “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy, lihat, Imam Asy Syaukani, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648]. Hal ini juga diperkuat dengan apa yang dikatakan Rasullullah bahwasanya “Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya, maka pernikahannya batil; pernikahannya batil; pernikahannya batil”. [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649]. Dengan demikian jika nikah siri dilakukan tanpa wali, maka pernikahan tersebut merupakan pernikahan batil.

Yang kedua, apabila pernikahan siri adalah pernikahan yang dilakukan karena tidak mencatatkan pernikahan tersebut ke dalam catatan sipil, maka pernikahan ini dianggap sah di mata agama karena semua rukun pernikahan terpenuhi. Dengan demikian pernikahan tersebut sah secara syariah.

Hanya saja pernikahan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dari negara karena belum dilakukannya pencatatan tersebut. Alasan kenapa pernikahan tersebut tidak dicatatkan ke dalam catatan sipil, terkadang dikarenakan adanya alasan pasangan yang melakukan nikah siri tidak memiliki cukup uang untuk mendaftarkannya pernikahan tersebut ke catatan sipil. Dengan demikian, pernikahan ini tetap sah secara syariah, dan tidak seharusnya masyarakat memberikan penilaian yang negatif terhadapnya.

Faktor yang ketiga adalah nikah siri disembunyikan karena adanya ketakutan akan anggapan masyarakat luas bahwa nikah siri merupakan suatu hal yang tabu untuk dilakukan. Sudah selayaknya apabila pasangan yang menikah ini tidak memiliki kesulitan dana dan tidak ada alasan khusus untuk menyembunyikan pernikahan mereka, mereka seharusnya mencatatkan pernikahan mereka ke dalam catatan sipil.

Dan, warga masyarakat juga tidak seharusnya membuat penilaian sendiri dengan menanamkan dalam benak mereka bahwa segala bentuk pernikahan siri itu haram dan tabu. Masyarakat harus menilik kembali arti nikah siri yang dilakukan setiap pasangan, sebelum memberikan cap tertentu terhadap pasangan tersebut.

Untuk menghindari terjadinya stigma terhadap para pelaku nikah siri, memang sebaiknya pencatatan terhadap pernikahan tersebut perlu untuk dilakukan. Apabila di kemudian hari ada masalah diantara para pasangan yang melakukan nikah siri, maka pencatatan pernikahan di catatan sipil akan memberikan kekuatan hukum bagi pasangan tersebut dan juga bagi anak-anak yang terlahir dari hasil pernikahan siri.

Jika pasangan nikah siri yang sudah mendaftarkan pernikahannya melakukan perceraian, maka secara hukum istri dan anak-anaknya masih berhak mendapat bagian dari harta yang dimiliki suaminya, dan apabila si suami mengelak dari tanggung jawab tersebut, maka dia bisa dituntut secara hukum. Hal yang sama tidak bisa dilakukan bila tidak adanya surat pernikahan resmi yang dikeluarkan oleh negara.

1 Trackback / Pingback

  1. Mengapa nikah siri bisa terjadi? | Grosir Souvenir Pernikahan dan Busana

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*