Mengapa nikah siri bisa terjadi?

Disadari ataupun tidak fenomena nikah siri sudah menjadi sesuatu hal yang biasa di mata masyarakat Indonesia. Buktinya, kalau mau ditelusuri, maka akan banyak ditemukan pernikahan yang tidak dicatatkan ke dalam lembaga catatan sipil atau kantor agama secara resmi. Kendalanya hanya mau atau tidaknya para pasangan tersebut mengakui bahwa pernikahan yang mereka lakukan adalah pernikahan siri.

Salah satu faktor pendorong yang menyebabkan nikah siri menjadi suatu hal yang ramai dibicarakan adalah adanya pernikahan antara Syeh Puji, seorang pengusaha dan Ulfa, yang masih dibawah umur. Masyarakat banyak menyoroti kasus tersebut dikarenakan Ulfa masih belum tercatat sebagai wanita yang berhak memutuskan apakah dia mau menikah atau tidak. Gadis itu masih terlalu belia untuk mampu mengambil keputusan sendiri sehingga menjadikan pernikahan dengan beda umur yang jauh tersebut semakin disoroti. Sebenarnya, apakah alasan mengapa budaya nikah siri masih terus menjalari masyarakat kita?

Salah satu alasan utama adalah nikah siri dianggap tidak seribet dengan pernikahan yang dicatatkan di KUA atau catatan sipil. Pernikahan siri hanya memerlukan wali, pasangan pengganti, penghulu, dan ijab kabul. Prosesnya pun dirasa tidak berbelit-belit sehingga banyak orang yang merasa nyaman melakukan pernikahan siri. Alasan kedua adalah pasangan ingin segera menikah, namun tidak memiliki cukup uang untuk melakukan pernikahan secara resmi di mata hukum. Dengan demikian solusi yang dirasa sebagai hal terbaik dan termudah adalah dengan melakukan pernikahan siri.

Para pasangan yang melakukan praktik nikah siri pada umumnya juga menganggap bahwa pernikahan siri mampu menghindarkan diri dari perbuatan zina. Jadi, daripada takut dosa, maka pasangan memilih untuk melakukan pernikahan siri. Dengan kata lain, hal ini dilakukan untuk melegalkan hubungan seksual antara pria dan wanita.

Kemudian, nikah siri juga dipilih bagi para pria yang sudah beristri dan merasa bosan atau marah dengan istrinya, tapi tidak mungkin menceraikan istrinya yang sah dimata hukum. Hal ini menjadi mendorong terjadinya poligami secara luas. Ada juga nikah siri yang dilakukan karena si pacar sudah terlanjur hamil dan hanya karena untuk menutupi anggapan masyarakat bahwa bayi tersebut tidak berayah, maka pernikahan siripun dilakukan di banyak tempat.

Beberapa alasan tersebutlah yang menjadi alasan dilakukannya nikah siri di berbagai tempat di Indonesia. Sayangnya, dengan alasan untuk menghindarkan diri dari perzinaan, maka nikah siri juga menjadi suatu hal yang umum dilakukan oleh pria asing yang bekerja di Indonesia dan menginginkan pemuasan libido dan tidak mau melakukan apa yang disebut dengan perzinahan. Setelah puas menyalurkan libidonya, seringkali para wanita yang dinikahi ditinggalkan begitu saja, terutama jika mereka harus kembali ke negaranya masing-masing.

Agaknya, apapun alasannya, pasangan yang melakukan nikah siri sudah mengerti benar bahwa pernikahan yang mereka lakukan tidak memiliki kekuatan hukum. Namun tetap masih jugapraktek semacam ini terus berlanjut di banyak tempat. Jika dilihat dari berbagai sudut, nikah siri banyak merugikan pihak perempuan. Perempuan yang melakukan nikah siri tidak bisa menuntuk suaminya yang tidak lagi memberikan nafkah lahir dan batin secara hukum, karena mereka tidak mampun menunjukkan akta nikah yang dimilikinya. Dan anak-anak yang terlahir dari hubungan pernikahan yang semacam ini juga bisanya tidak mendapatkan apa-apa dari ayah yang meninggalkan atau menceraikan kembali istrinya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*