Tag

, ,

Saat ini masih banyak orang yang belum begitu memahami bagaimana
sebenarnya konsep pernikahan yang disebut sebagai nikah siri.
Pengertian tentang nikah siri yang beredar di masyarakat juga cukup
beragam. Hal ini yang perlu mendapat perhatian dari ulama’ dan juga
pemerintah. Semestinya ada pelurusan konsep dan pemahaman sehingga
nikah siri tidak lagi menjadi suatu momok yang cukup meresahkan
masyarakat akhir-akhir ini. Dengan adanya ketidak sepahaman mengenai
hal-hal yang terkait dengan nikah siri memunculkan polemik di
masyarakat. Padahal hal ini seharusnya tidak perlu muncul bila sudah
terdapat kesepahaman.

Nikah siri sebenarnya sama dengan pernikahan normal yaitu pernikahan
yang dilakukan sesuai kaidah agama dengan memenuhi seluruh syarat
dan rukun sahnya. Bila melihat pengertian tersebut, nikah siri juga
bisa dikategorikan sebagai pernikahan yang sah secara agama. lantas
apa yang menjadikannya suatu permasalahan. Kita bisa menelaah
terlebih dahulu kata ‘siri’ yang ada di belakang kata ‘nikah’. Siri
memiliki makna sembunyi-sembunyi. Sembunyi-sembunyi di sini juga
tidak bisa diartikan bila perempuan yang masih memiliki wali
kemudian bisa menikah secara sembunyi-sembunyi tanpa wali sahnya.

Bukan seperti itu tentunya. Siri di sini muncul karena adanya
peraturan perundang-uang yang mengatur mengenai pernikahan. sehingga
sembunyi-sembunyi di sini dimaksudkan karena pernikahan tersebut
tidak diketahui oleh pihak negara arena tidak dilaporkan ke lembaga
pencatatan negara. Jadi, untuk melakukan pernikahan secara siri,
pasangan calon mempelai juga harus memenuhi semua persyaratan dan
rukun menikah sesuai ajaran agama. Bila tidak, maka pernikahan
tersebut tidak sah secara agama.

Yang sering menjadi permasalahan di masyarakat terkait dengan nikah
siri adalah hal yang menyangkut hak waris anak hasil dari pasangan
yang menikah siri. Apakah dia juga punya hak waris bila ada keluarga
yang terikat dengannya meninggal dunia. Hal ini harusnya dipahami
oleh masyarakat yang sudah atau berencana menikah secara siri.

Pernikahan siri yang sah secara agama, maka hal-hal atau hubungan
yang terlahir dengan adanya pernikahan tersebut juga hendaknya
diperhatikan. Anak yang terlahir dari hubungan pernikahan secara
siri memiliki hak waris, namun aturan pembagian waris untuknya bukan
menurut aturan hukum pemerintah tetapi sesuai dengan ketentuan agama.
Bukankah agama sudah mengatur segala sesuatu yang terkait dengan
kehidupan manusia bahkan menyangkut waris?

Jadi, anggaapan bahwa anak pasangan nikah siri tidak akan bisa
mendapatkan hak warisnya itu kurang tepat. Secara agama, tentu saja
dia masih memiliki hak penuh atas waris untuknya. Pernikahan yang
dilakukan oleh orang tuanya meski siri itu sah secara agama, jadi
apapun yang terkait dengan pernikahan tersebut hendaknya juga
diselesaikan secara agama pula. Bila dalam keluarga tersebut kurang
memahami sistematika pembagian waris secara agama, mereka bisa
menanyakan kepada orang yang lebih memahami tentang hal itu seperti
para ulama’.

Permasalahan yang sering timbul terkait dengan hak waris ini adalah
kesulitan memiliki tanda bukti bahwa ada pernikahan dan anak
tersebut terlahir dari hubungan pernikahan yang sah terutama bila
saksi-saksi dalam pernikahan telah meninggal dunia. Dalam hal inilah
pentingnya memiliki pengetahuan agama dan tanggung jawab bagi
masing-masing pihak sehingga tidak harus ada yang menjadi korban.

Bila kedua belah pihak dari pasangan nikah siri tersebut memiliki
pengertian dan pemahaman yang sama, maka persoalan hak waris anak
dari pasangan nikah siri tersebut tidak akan menjadi masalah lagi
karena bila ada salah satu atau dua orang tua pasangan nikah siri
meninggal, maka secara langsung keluarga juga mengetahui bahwa anak
yang mereka tinggalkan ini memiliki hak waris yang harus dihitung
sesuai syariat agama.